Apa Kabar Salatiga — Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga terus memperkuat sektor pertanian sebagai upaya menghadapi tantangan ketahanan pangan di tengah dinamika perubahan iklim, kenaikan harga pangan, dan keterbatasan lahan pertanian. Sejumlah inovasi mulai dikembangkan untuk memastikan ketersediaan pangan tetap stabil dan mendukung kesejahteraan petani lokal.
Dorong Pertanian Modern Berbasis Teknologi
Pemkot Salatiga melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) mulai memperluas penerapan teknologi pertanian modern seperti smart farming, sistem irigasi tetes, dan pemantauan hama berbasis digital. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan yang terbatas, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pola pertanian konvensional.
Beberapa kelompok tani di Salatiga juga telah mendapatkan pendampingan untuk mengadopsi pertanian presisi, sehingga proses pemupukan dan penyiraman dapat dilakukan lebih efektif.
Pengembangan Urban Farming di Kawasan Padat Penduduk
Selain meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang ada, Pemkot Salatiga gencar mengembangkan program urban farming di permukiman penduduk. Melalui pemanfaatan pekarangan, lahan tidur, hingga rooftop bangunan publik, masyarakat didorong menanam komoditas seperti cabai, sayuran hijau, dan tanaman obat keluarga.
Program ini bukan hanya memperkuat kemandirian pangan keluarga, tetapi juga menumbuhkan budaya bertani di kawasan perkotaan.

Baca juga: Kontrak Hampir Berakhir, Pembangunan Gudang Pangan dan TWR Salatiga Dikebut
Kolaborasi Petani, Perguruan Tinggi, dan Pemerintah
Sebagai kota pendidikan, Pemkot Salatiga menggandeng sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan riset dan pendampingan teknologi pertanian. Kolaborasi ini menghasilkan berbagai inovasi, mulai dari varietas tanaman yang lebih adaptif hingga metode budidaya hemat air yang cocok diterapkan di daerah perkotaan.
Tidak hanya itu, pemerintah juga mendorong lahirnya wirausaha muda di bidang pertanian melalui pelatihan dan akses permodalan.
Antisipasi Dampak Perubahan Iklim
Perubahan iklim menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian. Untuk itu, Pemkot Salatiga melakukan mitigasi melalui:
-
Penguatan sistem peringatan dini cuaca ekstrem
-
Pelatihan adaptasi iklim bagi petani
-
Diversifikasi komoditas untuk mengurangi risiko gagal panen
-
Pembangunan embung dan optimalisasi sumur resapan
Langkah ini diharapkan menjaga kontinuitas produksi pangan meski kondisi cuaca tidak menentu.
Komitmen Menuju Kota Tangguh Pangan
Wali Kota atau pejabat terkait menegaskan bahwa ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas pembangunan Salatiga. Dengan inovasi teknologi, kolaborasi multipihak, dan pemberdayaan masyarakat, Pemkot optimistis mampu membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan Salatiga tetap aman pangan, sekaligus memberi ruang bagi petani untuk berkembang dan sejahtera,” ujarnya.






