SALATIGA – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., menegaskan bahwa upaya menjaga predikat kota toleran membutuhkan kerja sama yang kuat. Ia menyampaikan hal itu saat membuka Orientasi Pelopor Penguatan Moderasi Beragama Salatiga di Kampung Kopi Banaran, Bawen, Selasa (2/12). Ia juga menyoroti potensi wisata sebagai salah satu penguat citra toleransi di Salatiga.
Kegiatan yang berlangsung pada 2–4 Desember 2025 ini diikuti dosen dan tenaga kependidikan dari seluruh fakultas. Acara tersebut digelar oleh Pusat Wasathiyyah Islam (Moderasi Beragama) LP2M UIN Salatiga. Rektor menilai kampus memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai toleransi yang sudah lama hidup di kota ini.
Zakiyuddin menekankan bahwa UIN Salatiga merupakan bagian penting dari struktur sosial kota. Karena itu, kampus harus mendorong harmoni dan menjadi teladan dalam membangun karakter moderat. Ia juga mendorong kolaborasi lintas lembaga agar praktik moderasi beragama berkembang lebih luas di tengah masyarakat.
Di sisi lain, Kepala Pusat Wasathiyyah Islam LP2M, Muhamad Rozikan, S.Pd.I., M.Pd., menyebut kegiatan ini sebagai tindak lanjut Keputusan Menteri Agama Nomor 93 Tahun 2022. Ia menegaskan bahwa ASN perlu memahami nilai moderasi dan menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari. Rozikan juga menambahkan bahwa UIN Salatiga terus memperkuat nilai kebangsaan dan kemanusiaan di lingkungan akademik.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya ingin menjadikan penguatan moderasi beragama Salatiga sebagai budaya kampus. Selanjutnya, narasumber utama, Dr. Marzuki Wahid, M.Ag., Rektor Universitas Fahmina Cirebon, memaparkan konsep moderasi beragama sebagai cara pandang yang adil dan seimbang. Ia menegaskan bahwa seseorang dapat berpegang pada keyakinannya sambil tetap menghormati pemeluk agama lain.






