Dior Dior Dior

Prabowo Beri Sikap Hormat Saat Pengibaran Bendera China di Parade Akbar 2025

Dior

Jeritan Langsa — Prabowo Beri Sikap Hormat Saat Pengibaran Bendera China di Parade Akbar 2025 Menteri Pertahanan RI sekaligus Presiden Terpilih Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menjadi pusat perhatian internasional setelah memberikan sikap hormat militer saat bendera Republik Rakyat Tiongkok dikibarkan dalam Parade Akbar Perdamaian Asia 2025 yang digelar megah di Beijing, akhir pekan lalu.

Momen tersebut terjadi saat delegasi militer dari negara-negara Asia Pasifik melakukan defile bersama di bawah pengawasan Presiden Xi Jinping dan sejumlah kepala negara. Ketika giliran pengibaran bendera China tiba — diiringi lagu kebangsaan “March of the Volunteers” — kamera menyorot Prabowo yang berdiri tegak, tangan kanan memberi hormat penuh gaya militer, dengan ekspresi wajah tegas.

Dior

Sempat Batal, Prabowo Tetap ke China demi Undangan Xi Jinping, Apa Agenda di Sana?

Baca Juga: Menlu Sugiono Buka Suara soal Diplomat RI Tewas Ditembak di Peru

Aksi itu memicu beragam reaksi — dari pujian atas sikap diplomatisnya, hingga kritik tajam yang menyebutnya terlalu tunduk terhadap simbol negara asing yang memiliki hubungan kompleks dengan Indonesia.

Momen Singkat yang Jadi Sorotan Dunia

Acara parade ini merupakan bagian dari perayaan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II di kawasan Asia Timur, sekaligus upaya China menampilkan kekuatan lunaknya (soft power) di hadapan mitra-mitra strategis. Indonesia diundang sebagai tamu kehormatan, dengan Prabowo sebagai wakil utama pemerintah — mengingat pelantikan presiden baru dijadwalkan bulan Oktober mendatang.

Cuplikan video hormat Prabowo langsung viral, baik di media lokal maupun internasional. Outlet seperti The South China Morning Post dan Nikkei Asia menyoroti gestur itu sebagai simbol kedekatan Indonesia dan China, yang dalam beberapa tahun terakhir menjalin kerja sama ekonomi dan pertahanan yang semakin erat.

Namun di dalam negeri, reaksi justru jauh lebih beragam — bahkan cenderung terpolarisasi.

Istana dan Kemenhan: “Itu Etika Militer Internasional”

Menanggapi kritik yang muncul, Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI (Purn) Toto Hadiwijaya, menjelaskan bahwa sikap hormat Prabowo adalah hal yang lazim dalam protokol militer internasional.

“Itu bentuk penghormatan antar negara, bukan bentuk tunduk atau penyerahan kedaulatan. Saat Mars Kebangsaan dikumandangkan, para perwira militer umumnya memberikan penghormatan sebagai simbol respek terhadap negara tuan rumah,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/9).

Ia juga menambahkan bahwa Prabowo memberikan sikap hormat serupa saat bendera Indonesia dikibarkan dan lagu “Indonesia Raya” dimainkan dalam sesi pembukaan parade.

Sementara dari pihak Istana, staf transisi kepresidenan menyatakan bahwa Presiden Terpilih Prabowo tengah membangun jalur diplomatik baru yang lebih pragmatis dan terbuka.

“Ini adalah bagian dari pendekatan baru Indonesia yang lebih realistis dalam politik luar negeri: non-blok, tapi aktif bersahabat,” kata seorang sumber dari lingkaran dekat transisi pemerintahan.

Kritik dari Dalam Negeri: “Simbolisme Itu Tidak Sederhana”

Di sisi lain, sejumlah pengamat dan politisi memberikan respons kritis. Salah satu yang paling vokal adalah anggota DPR dari Fraksi PKS, Fahri Maulana, yang menyebut bahwa sikap hormat Prabowo tidak sensitif terhadap situasi geopolitik dan perasaan rakyat Indonesia.

“China bukan sekadar mitra dagang. Kita punya sejarah panjang dengan isu Laut Natuna Utara, nelayan kita sering diganggu kapal asing, belum lagi masalah Uyghur yang jadi sorotan dunia. Simbolisme ini tidak sederhana — rakyat melihat,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Nada serupa juga datang dari pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Dr. Retno Anindita.

“Memang dalam tradisi militer ada protokol itu. Tapi Prabowo bukan hanya Menteri Pertahanan — dia adalah Presiden Terpilih. Setiap gesturnya kini akan dibaca sebagai sikap politik negara,” ujarnya.

Retno menilai bahwa momen tersebut bisa menjadi bumerang politik jika tidak dijelaskan dengan tepat kepada publik.

Media Sosial Panas: Antara Bangga dan Geram

Tagar #PrabowoHormatChina dan #PresidenKita sempat menjadi trending topic di X (sebelumnya Twitter) dengan jutaan impresi. Banyak pendukung Prabowo membela sikap tersebut sebagai wujud etika militer yang benar, bahkan menyebutnya sebagai “negarawan sejati yang tahu kapan memberi respek.”

Namun sebagian lainnya merasa kecewa, menyebut bahwa gestur tersebut terlalu “lembek” dan bisa dimanfaatkan oleh propaganda asing.

Seorang pengguna menulis:

“Pak Prabowo dulu gagah teriak nasionalisme, sekarang malah hormat ke bendera negara yang sering ganggu kedaulatan laut kita. Ironi.”

Sebaliknya, pendukungnya membalas dengan:

“Hormat bukan tunduk. Justru itu menunjukkan kita negara besar yang percaya diri dan mampu berteman tanpa minder.”

Penyeimbang: Sikap Diplomatik atau Ancaman Kedaulatan?

Prabowo memang dikenal memiliki pendekatan pragmatis dalam urusan luar negeri. Selama menjabat sebagai Menhan, ia aktif menjalin komunikasi dengan berbagai negara, termasuk China, Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis, untuk memperkuat pertahanan Indonesia tanpa terjebak dalam blok kekuatan tertentu.

Namun, pengamat menilai bahwa memasuki era kepemimpinannya sebagai presiden, setiap simbol dan gestur yang ia lakukan akan dibaca dengan makna yang lebih dalam.

“Presiden bukan hanya jabatan, tapi juga simbol negara. Bahkan sikap tubuhnya bisa berdampak diplomatik,” ujar Denny Siregar, penulis dan analis politik.

Akhir Kata: Diplomasi Era Prabowo Dimulai

Momen hormat Prabowo di Beijing mungkin hanya berlangsung beberapa detik, namun dampaknya meluas hingga hari-hari berikutnya. Ia telah menunjukkan bahwa gaya diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinannya mungkin akan lebih lugas, terbuka, dan penuh simbol.

Dior